Ilmu adalah Cahaya, Kebodohan adalah Kegelapan

https://cafeilmubrilly.blogspot.com/2014/09/ilmu-adalah-cahaya-kebodohan-adalah.html
Sesungguhnya
cahaya ilmu itu dapat menyingkap rahasia-rahasia sesuatu dan menjelaskan
tingkatan-tingkatannya, sedangkan kehidupan ialah yang membenarkan sifat-sifat
kesempurnaan yang wajib meluruskan pendapat-pendapat dan perbuatan. Tatkala ia berangkat dari kehidupan maka ia
adalah kebaikan seluruhnya, seperti malu yang sebabnya adalah kesempurnaan
hidupnya hati. Gambaran dia (tentang) hakikat kejelekan, (yang menjadikan) ia lari
darinya, sedangkan kebalikannya adalah sedikitnya rasa malu dan perbuatan keji yang dapat menyebabkan
matinya hati dan tidak mau lari dari (sesuatu) yang jelek, seperti (sifat) malu
dialah hujan yang dengannya segala sesuatu dapat hidup.
Allah
Ta’ala telah berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami
hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu
dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang
yang keadaannya
berada dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat
keluar dari padanya?”[Al-An’aam : 122].
Dia
telah mati hatinya karena kebodohan kemudian Dia hidupkan dengan ilmu dan Dia
berikan kepadanya sebuah cahaya iman yang dengannya ia dapat berjalan di
tengah-tengah masyarakat manusia, dan Allah telah berfirman: “Hai orang-orang
yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah
kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia
mengampuni kamu. Dan
Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang, (Kami terangkan yang demikian itu)
supaya ahli kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan
karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya
karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”[Al-Hadiid : 28-29].
Dan Dia Ta’ala
berfirman: ”Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka
dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir,
pelindung-pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya
kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya.”[Al-Baqarah : 257].
Dan Dia Ta’ala telah berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang kami tunjuki dengannya siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”[Asy-Syuuraa : 52].
Dia
mengabarkan bahwasanya ia adalah sebuah ruh yang dengannya dapat terwujud
adanya kehidupan dan cahaya yang
dengannya dapat terwujud adanya keadaan yang terang benderang; maka Dia
menggabungkan antara dua unsur pokok
(yaitu) hidup dan cahaya. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya telah datang
kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah
Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan,
dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki
mereka ke jalan yang lurus.”[Al-Maaidah : 15-16].
Allah Ta’ala juga telah
berfirman: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya
Allah, adalah seperti lubang yang tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.
Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang( yang bercahaya)
seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak
berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur (sesuatu) dan
tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi,
walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allahmembimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.”[An-Nuur : 35],
Allah berfirman “Cahaya
di atas cahaya”, yaitu cahaya iman di atas cahaya Al-Qur’an. Akan tetapi (hal)
ini tidaklah sesuai bagi setiap orang yang berilmu kecuali jika ia berpegang
teguh kepada akhlak yang bagus dan mencontoh penghulu kita dan kekasih kita karena Allah Ta’ala
telah berfirman tentang hak beliau “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung.”[Al-Qalam: 4].
Adapaun kebodohan maka
sungguh Allah Ta’ala telah mencelanya dengan firman-Nya “Katakanlah adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
[Az-Zumar : 9] sesungguhnya Dia Subhanahu telah mencela orang-orang yang bodoh
di dalam banyak tempat dalam KitabNya, Dia Ta’ala telah berfirman:”Tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui.”[Al-An’aam : 111].
Dan Dia Ta’ala telah
berfirman: “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau
memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka
itu lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).[Al-Furqaan : 44], maka Dia
Subhanahu tidak berhenti hanya pada menyamakan orang-orang yang bodoh itu
dengan binatang ternak tetapi juga sampai menjadikan mereka itu lebih sesat
jalannya dari binatang ternak tersebut.
Dan
Allah Ta’ala telah berfirman kepada NabiNya dan sesungguhnya Dia telah
melindunginya “sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang
jahil.”[Al-An’aam : 35]. Dan
Nabi yang telah diajak bicara oleh Allah secara langsung Musa alaihi
ash-shalatu was salam telah berkata “Aku berlindung kepada Allah agar tidak
menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”[Al-Baqarah : 67].
Dan
Dia telah berfirman kepada rasulNya yang pertama kali Nuh alaihis salam “Sesungguhnya
Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak
berpengetahuan.”[Huud:46], maka inilah keadaan orang-orang yang jahil di
sisiNya dan yang keadaan orang-orang yang berilmu di sisiNya.
Allah
Subhanahu telah mengabarkan tentang hukuman bagi musuh-musuhNya bahwasanya Dia telah menghalangi mereka untuk
mengetahui, mengenal, dan memahami (isi) kitabNya (Al-Qur’an), Allah Ta’ala
telah berfirman, ”Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya kami adakan antara
kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding
yang tertutup, dan kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di
telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya.”[Al-Israa’:45-46]. Dia telah memerintahkan
NabiNya untuk berpaling dari mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Serta berpalingah
dari pada orang-orang yang bodoh.”[Al-A’raaf:199].
Dan Allah telah memuji para hambaNya (yang
telah) berpaling dari mereka dan kebersamaan mereka sebagaimana (yang telah
disebutkan) di dalam firmanNya: ”Dan apabila mereka mendengar perkataan yang
tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata:’bagi kami
amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak
ingin bergaul dengan orang-orang jahil”[Al-Qashash:5].
Dia Ta’ala telah
berfirman: ”Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan
kata-kata yang baik.”[Al-Furqaan:63]. Semuanya itu menunjukkan jeleknya
kebodohan di sisiNya dan (menunjukkan) kebencianNya terhadap kebodohan dan
orang-orang yang bodoh, dan demikian pula di tengah-tengah manusia sesungguhnya
setiap orang berlepas diri dari kebodohan itu walaupun hal itu ada padanya.
Diambil
dari buku Meraih Surga Motivasi Spesial untuk Muslimah, Sukses Publishing,
Bekasi. Dapatkan bukunya sebagai hadiah untuk istri, ibu, saudari, bibi, adik
perempuan dan lainnya.
Admin: Ali Akbar
Dukung dakwah kami melalui komentar, doa, memasang iklan dan infaq sukarela.
Admin: Ali Akbar
Dukung dakwah kami melalui komentar, doa, memasang iklan dan infaq sukarela.
Sampaikan komentar Anda sebagai wujud terima kasih Anda dan sebagai bahan evaluasi kami.