Discuss!

Awas! Glamor dan Pamor Bak Jilatan Obor






Oleh Brilly El-Rasheed
Inspirator Golden Manners



Jangan Tergila-gila dengan Pamor
Bagi kalangan muslim, pamor bisa diraih dengan aksi-aksi keshalihan, baik keshalihan personal maupun sosial. Berdasarkan penelusuran penulis (Brilly El-Rasheed), firqah-firqah dhalalah dan juga nonmuslim banyak berkedok kegiatan amal sosial untuk mendapatkan pamor, diterima khalayak, untuk kemudian dapat menyuntikkan paham-paham sesatnya. Nashrani (Kristen) di berbagai wilayah di dunia pun melakukan banyak bakti sosial seperti operasi katarak gratis, donor darah, operasi bibir sumbing dan lain sebagainya kemudian disiarkan melalui televisi dan media-media internet. Semuanya untuk membangun pamor.
Seseorang bertanya pada Tamim ad-Dari: “Bagaimana shalat malam engkau.” Maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata: “Demi Allah, satu rakaat saja shalatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku shalat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia.” (Dinukil dari kitab az-Zuhud, Imam Ahmad)
Memang, pamor bisa didapatkan dengan jalan pamer baik dalam bentuk riya’ maupun sum’ah.
Ayyub as-Sikhtiyani shalat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 3/8).
Keteladanan Ayyub as-Sikhtiyani ini menyentil alam bawah sadar kita betapa para salaf shalih benar-benar menghindari gila pamor.

Buang Jauh-jauh Glamor dan Pamor...!
Pembaca yang budiman, sekarang Anda percaya kan dengan apa yang penulis ungkapkan di awal tulisan ini bahwa manusia sangatlah rakus dengan glamor dan pamor. Hanya orang-orang yang dekat dengan Allah, yang diridhai Allah, yang akan bisa dengan mudah terbebas dari life style yang glamor dan gila pamor. Allah akan menjauhkan dari keduanya jika kita berdoa tulus kepadaNya semata.
Berkata syaikh Shalih Alu Syaikh: “Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan di antara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah, maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam– yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam-pen), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata tentangnya: “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar.” Namun Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkannya untuk berdoa di akhir shalatnya, “Rabbku, sesungguhnya aku telah banyak mendzalimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau, maka ampunilah aku dengan pengampunanMu.”
Yang mewasiatkan adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar as-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Rabbnya, maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan di antara manusia, khawatir diangkat-angkat di antara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.
Di antara manusia ada yang merupakan qori’ al-Qur’an yang tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Di antara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan keshalihannya, kewara’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.
Di antara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berda’wah, maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah.
Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang memiliki pengikut.
Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya di antara manusia dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, karena di antara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan. Dan di antara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.

Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.


Admin: Muhammad Maftuhin
Editor: Muhammad Sutrisno S.Pd.I
Copyright: cafeilmubrilly.blogspot.com
Ingin beriklan Rp. 50.000,-/bulan? Hubungi 081515526665






Related

Liye Style 137000512700123442

Posting Komentar

Sampaikan komentar Anda sebagai wujud terima kasih Anda dan sebagai bahan evaluasi kami.

emo-but-icon

Arsip Blog

Tafaqur

Tafaqur
Tebar Waqaf Al-Quran

Blogging Network

Hot in week

Total Tayangan Halaman

Promo SBY

Promo SBY

Kontributor

item