Discuss!

Budaya Literasi, Seharusnya Dilaksanakan dan Dikembangkan




Oleh M. Maftuhin ar-Raudli


Sesungguhnya al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah ayat-ayat yang memerintahkan untuk membaca. Ayat-ayat tersebut merupakan rahmat pertama yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. kepada para hamba-Nya dan nikmat pertama yang dicurahkan Allah kepada mereka.
Ayat-ayat ini merupakan peringatan awal tentang penciptaan manusia dari segumpal darah. Dan Sesungguhnya di antara kemurahan Allah Ta’ala adalah mengajarkan pada umat manusia sesuatu yang tadinya tidak diketahui.
Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat dan memuliakannya dengan ilmu. Inilah jabatan yang hanya diberikan Allah kepada bapak Manusia, yaitu Adam ‘alaihi sallam, sehingga membedakannya dengan Malaikat. Dan ilmu terkadang ada dalam benak kadang-kadang dengan lidah. Kadang-kadang pula berada dalam tulisan dan bersifat mentalistik dan formalistik. Kata formalistik memastikan ilmu berada dalam tulisan, namun tidak sebaliknya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
“……Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……” (QS. al-Mujadilah: 11)
Ayat-ayat dalam surat al-Alaq di ataslah yang mengisyaratkan bahwa dengan membaca kita akan mengetahui apa yang tidak kita ketahui sebelumnya. Tentu saja, kita butuh seorang pengajar untuk memahaminya, sebagaimana Allah mengajarkan kepada para utusan-Nya, dan para utasan-Nya itu mengajarkan apa-apa yang telah diketahuinya kepada para sahabatnya dan demikian seterusnya.
Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda yang artinya: “Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan, dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (HR Muslim, no. 1352)
Membaca merupakan salah satu cara dalam mendapatkan ilmu, oleh karena itu betapa pentingnya membaca. Lihatlah betapa para ulama’ terdahulu yang shalih dalam mencari ilmu.
Imam Syafi’i pernah ditanya tentang semangatnya mempelajari ilmu adab, “Bagaimana ketamakanmu terhadapnya?” Beliau menjawab, “Ibarat orang yang tamak mengumpulkan berbagai macam harta demi mencapai kepuasan terhadapnya.” Kemudian ditanya lagi, “Bagaimana cara kamu mencarinya?” Beliau menjawab “Sebagaimana seorang ibu sedang mencari anaknya yang hilang, dia tidak mencari apapun selain anaknya.”
Imam Ahmad berkata: “Aku mengembara untuk mencari hadits dan sunnah ke Tsughur, wilayah Syam, Sawahil, Maroko, al-Jazair, Madinah, Irak, wilayah Hauran, Persia, Khurasan, gunung-gunung dan ujung dunia.”
Abul Husain Ahmad bin Faris al-Lughawi berkata: “Saya mendengar Ustadz Ibnu al-’Amid berkata, “Saya tidak pernah menyangka bahwa di dunia ini ada kenikmatan lain yang lebih nikmat dari kepemimpinan dan kementrian yang aku jabat, hingga suatu saat aku bisa menyaksikan diskusi yang terjadi antara Abu Qasim ath-Thabrani dan Abu Bakr al-Ji’ani. Ath-Thabrani memiliki kelebihan dalam bidang hafalan dibanding dengan Abu Bakr, sedangkan Abu Bakr memiliki kelebihan dalam sisi kejelian dan kejeniusannya, hingga suara keduanya semakin meninggi dan tidak ada satupun yang terkalahkan.
Al-Ji’ani berkata, “Saya memiliki sebuah hadits yang tidak didapatkan dunia ini kecuali ada padaku.” Ath-Thabrani berkata, “Mana?” Al-Ji’ani berkata, “Telah berkata kepada kami Abu Khulaifah al-Jumahi, berkata kepada kami Sulaiman bin Ayyub, kemudian dia menyebutkan sebuah hadits.” AL-Ji’ani pun tersipu malu, maka saya semakin yakin bahwa jabatan bukan segala-galanya. Saya kagum kepada Thabrani dan sangat senang kepadanya. (Siyar A’lamin Nubala)
Riwayat-riwayat tersebut adalah hanya sebagian kecil para salafush shalih tentang bagaimana keseriusannya dalam menuntut ilmu. Mereka rajin membaca dan juga menulis, walaupun sarana dan prasarana mereka sangat terbatas. Karena membaca dan menulis merupakan jendela dunia. Kita akan mampu mengetahui banyak hal dari keduanya.
Inilah yang dimaksud dengan pokok kalimat: 
“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (baca-tulis). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”



Admin: Muhammad Maftuhin
Editor: Muhammad Sutrisno S.Pd.I
Copyright: cafeilmubrilly.blogspot.com
Ingin beriklan Rp. 50.000,-/bulan? Hubungi 081515526665











Related

Education 1895510572071032104

Posting Komentar

Sampaikan komentar Anda sebagai wujud terima kasih Anda dan sebagai bahan evaluasi kami.

emo-but-icon

Arsip Blog

Tafaqur

Tafaqur
Tebar Waqaf Al-Quran

Blogging Network

Hot in week

Total Tayangan Halaman

Promo SBY

Promo SBY

Kontributor

item