Discuss!

Terlalu Bangga dengan Kuantitas



Oleh Brilly El-Rasheed
Inspirator Golden Manners



Terlalu Bangga
dengan Kuantitas
Kita senang sekali dengan kuantitas  dan  jumlah  yang  banyak dalam  segala  sesuatu, dan suka menonjolkan angka beribu-ribu dan berjuta-juta, tetapi kita tidak banyak  memperhatikan  apa yang  ada  di  balik  jumlah  yang  banyak  itu,  dan apa yang terkandung di dalam angka-angka tersebut.
Salah  seorang  penyair  pada  zaman  Arab   Jahiliyah   telah mengetahui  pentingnya kualitas dibandingkan dengan kuantitas, ketika dia mengatakan:
Ia mencela kami karena jumlah kami sedikit.
Maka kukatakan kepadanya: “Sesungguhnya orang-orang yang mulia itu sedikit.
“Apalah ruginya kami sedikit, kalau dengan jumlah yang sedikit itu kami mulia.
Sedangkan orang-orang yang jumlahnya banyak itu terhina.”
Al-Qur’an pun menyebutkan kepada kita bagaimana tentara Thalut, yang  jumlahnya  sedikit dapat mengalahkan tentara Jalut, yang jumlahnya banyak:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ . وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ . فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ
“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberang sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 249-251)
Al-Qur’an menyebutkan kepada kita bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dapat memperoleh kemenangan pada Perang Badar, padahal  jumlah  mereka  sangat  sedikit  dibandingkan  dengan jumlah  musuh  mereka,  kaum  musyrik  yang  jumlahnya  sangat banyak.
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 123)
وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ
“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang Makkah akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanrrya kamu kuat dengan pertolongan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 26)
Pada saat yang  lain,  kaum  muslimin  juga  hampir  menderita kekalahan  pada  perang  Hunain,  karena mereka melihat kepada kuantitas dan bukan  kualitas,  sehingga  mereka  membanggakan diri dengan kuantitas, dan meremehkan kekuatan ruhaniah, serta kemahiran berperang.  Kemudian  pada  awal  peperangan  mereka terkepung, sehingga mereka baru mengetahui dan menyadari, lalu bertobat, dan  akhirnya  Allah  memberikan  kemenangan  kepada mereka,  dengan memberikan bantuan kekuatan tentara yang tidak mereka lihat.
قَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ . ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 25-26)
Telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa apabila keimanan dan kemauan   kuat  atau  kesabaran  telah  berkumpul  dalam  diri manusia, maka kekuatannya  akan  menjadi  sepuluh  kali  lipat jumlah   musuh-musuhnya,  yang  tidak  memiliki  keimanan  dan kemauan. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum muslimin yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal: 65)
Yang demikian ini ialah ketika keadaan mereka kuat.  Sedangkan ketika  mereka  dalam  keadaan  lemah, maka kekuatan itu hanya menjadi   dua   kali   lipat   kekuatan   musuh,   sebagaimana diisyaratkan dalam ayat ini:
لْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ
“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua rarus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah.” (QS. Al-Anfal: 66)
Oleh karena  itu,  yang  paling  penting  ialah  keimanan  dan kemauan, dan bukan jumlah yang banyak.
Barangsiapa  mau  membaca  sirah  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia akan mengetahui bahwa sesungguhnya perhatian beliau tertumpu kepada kualitas  dan  bukan  kuantitas.  Dan  orang yang mau menyimak sirah para sahabat dan para khalifah rasyidin  akan  mendapati hal yang sama dengan jelas sekali.
Umar bin Khaththab pernah mengutus Amr bin ‘Ash untuk menaklukkan Mesir, dengan membawa empat ribu orang tentara saja.  Kemudian dia  meminta  tambahan personil tentara lagi, dan Umar memberi empat  ribu  orang   tentara   lagi,   berikut   empat   orang komandannya. Umar berkata: “Setiap orang komandan tambahan ini membawahkan seribu  orang  tentera,  dan  aku  menilai  jumlah mereka semuanya adalah dua belas ribu orang tentara. Dua belas ribu  (tentara)  tak  akan  dikalahkan  karena   jumlah   yang sedikit.”
Umar  sangat percaya bahwa yang paling penting ialah kualitas, kemampuan, dan kemauan  mereka  dan  bukan  jumlah  dan  besar mereka.

Diriwayatkan  dari  Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pada suatu hari beliau duduk  bersama  sebagian  sahabatnya  di  sebuah  rumah temannya, kemudian beliau berkata kepada mereka: “Tunjukkanlah cita-cita kamu.” Maka salah seorang di antara mereka  berkata: “Aku  bercita-cita  ingin  mempunyai  dirham  dari  perak yang memenuhi rumah ini  sehingga  aku  dapat  menafkahkannya  pada Jalan  Allah.”  Orang  yang  lain  bercita-cita  memiliki emas sepenuh rumah tersebut  dan  menafkahkannya  di  jalan  Allah. Sementara Umar berkata: “Aku, ingin memiliki orang seperti Abu Ubaidah  al-Jarrah,  Mu’adz  bin  Jabal,   Salim   Maula   Abu Hudzaifah,  sepenuh  rumah ini agar aku dapat mempergunakannya untak berjuang di jalan Allah.”



Admin: Muhammad Maftuhin
Editor: Muhammad Sutrisno S.Pd.I
Copyright: cafeilmubrilly.blogspot.com
Ingin beriklan Rp. 50.000,-/bulan? Hubungi 081515526665






Related

Quantum 9024111926415481199

Posting Komentar

Sampaikan komentar Anda sebagai wujud terima kasih Anda dan sebagai bahan evaluasi kami.

emo-but-icon

Arsip Blog

Tafaqur

Tafaqur
Tebar Waqaf Al-Quran

Blogging Network

Hot in week

Total Tayangan Halaman

Promo SBY

Promo SBY

Kontributor

item